zwani.com myspace graphic comments

Sabtu, 30 Oktober 2010

Hukum dan Pranata Pembangunan


PENJELASAN TENTANG UU NO. 26 TAHUN 2007
TENTANG PENATAAN RUANG
(Oleh : Ir. Sri Apriatini Soekardi, MM - Direktur Penataan Ruang Wilayah II)
I. ISU STRATEGIS PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG
  1. Bencana alam yang terus melanda merupakan akibat dari pemanfaatan ruang yang tidak memperhatikan kaidah pembangunan berkelanjutan.
  2. Ancaman krisis pangan dunia harus diantisipasi dengan pengaturan pemanfaatan ruang untuk pengamanan produksi pangan nasional.
  3. Krisis energi nasional mencerminkan tidak optimalnya pemanfaatan sumber daya energi nasional, baik sumber daya tak terbarukan maupun sumber daya terbarukan.
  4. Sumber daya kelautan belum dimanfaatkan secara optimal à pembangunan masih berorientasi ke wilayah daratan.
  5. Rendahnya kinerja infrastruktur wilayah menurunkan minat investasi yang dibutuhkan untuk meningkatkan perekonomian nasional.
  6. Otonomi daerah memerlukan penguatan kapasitas penyelenggara pembangunan di daerah, termasuk dalam penyelenggaraan penataan ruang.
  7. Penguatan kapasitas penyelenggaraan penataan ruang masih terkendala oleh:
a. Pemahaman terhadap substansi UU No. 26/2007 belum setara à tidak hanya di daerah, tetapi juga di antara instansi pemerintah pusat.
b. Peraturan pelaksanaan yang diamanatkan UU No. 26/2007 belum lengkap tersedia à PP No. 26/2008 tentang RTRWN & peraturan pelaksanaan UU 24/1992 yang masih relevan
c. Ego sektor dalam pelaksanaan pembangunan belum sepenuhnya hilang à resistensi terhadap pendekatan penataan ruang.
II. HAL-HAL POKOK YANG DIATUR UU NOMOR 26/2007 TENTANG PENATAAN RUANG
  1. Strategi Umum dan Strategi Implementasi Penyelenggaraan Penataan Ruang
  2. Pembagian Kewenangan yang Lebih Jelas antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang
  3. Kejelasan Produk Rencana Tata Ruang (Bukan Hanya Administratif, tetapi Dapat Pula Fungsional)
  4. Penekanan pada Hal-hal yang Bersifat Sangat Strategis Sesuai Perkembangan Lingkungan Strategis dan kecenderungan yang Ada
  5. Penataan Ruang Mencakup Ruang Darat, Ruang Laut, dan Ruang Udara, termasuk Ruang di dalam Bumi, sebagai Satu Kesatuan
  6. Pengaturan Ruang pada Kawasan-Kawasan yang Dinilai Rawan Bencana (Rawan Bencana Letusan Gunung Api, Gempa Bumi, Longsor, Gelombang Pasang dan Banjir, SUTET, dan Lain-lain)
  7. Mengatur Penataan Ruang Kawasan Perkotaan dan Metropolitan
  8. Mengatur Penataan Ruang Kawasan Perdesaan dan Agropolitan
  9. Mengatur Penataan Ruang Kawasan Perbatasan sebagai Kawasan Strategis Nasional (termasuk pula Pulau-Pulau Kecil Terluar/Terdepan)
  10. Mengatur Penataan Ruang Kawasan Strategis Nasional dari Sudut Pandang Ekonomi (Kawasan Ekonomi Khusus, Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET), Kerjasama Ekonomi Sub Regional, serta Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas)
  11. Penegasan Hak, Kewajiban, dan Peran Masyarakat dalam Penataan Ruang
  12. Penguatan Aspek Pelestarian Lingkungan Hidup dan Ekosistem (Bukan hanya Poleksosbudhankam)
  13. Diperkenalkannya Perangkat Insentif dan Disinsentif
  14. Pengaturan Sanksi
  15. Pengaturan Penyelesaian Sengketa Penataan Ruang
  16. Pengaturan Jangka Waktu Penyelesaiaan Aturan-Aturan Pelaksanaan sebagai Tindak Lanjut dari Terbitnya UU Penataan Ruang Ini
  17. Pengaturan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS)
III. IMPLIKASI UU NO.26 TAHUN 2007 TERHADAP PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DI PROVINSI/KABUPATEN/KOTA
III.1. PENGATURAN
UU No. 26 Tahun 2007 mengamanatkan pembentukan landasan hukum bagi Pemerintah, Pemerintah Daerah dan masyarakat dalam penataan Ruang.
Pemerintah Provinsi :
  1. Pemerintah Provinsi harus melakukan revisi terhadap Peraturan Daerah tentang RTRW Provinsinya masing-masing paling lambat dalam waktu 2 (dua) tahun terhitung sejak UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang diberlakukan.
  2. RTRW Provinsi harus ditetapkan dengan Peraturan Daerah Provinsi
  3. Pemerintah Daerah Provinsi menetapkan Kawasan Strategis Provinsi
  4. RTR Kawasan Strategis Provinsi ditetapkan dengan Peraturan daerah Provinsi
  5. Penetapan Raperda Provinsi tentang RTRW Provinsi dan rencana rinci tata ruang terlebih dahulu harus mendapat persetujuan substansi dari Menteri
  6. Pemerintah Provinsi dapat menyusun petunjuk pelaksanaan bidang penataan ruang pada tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota
  7. Pemerintah Provinsi harus menyebarluaskan informasi yang berkaitan dengan RTRW, RDTR, arahan peraturan zonasi dan petunjuk pelaksanaan bidang Penataan Ruang
Pemerintah Kabupaten/Kota :
  1. Pemerintah Kabupaten/Kota harus melakukan revisi terhadap Perda tentang RTRW Provinsinya masing-masing paling lambat dalam waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang diberlakukan
  2. RTRW Kabupaten/Kota ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota
  3. Pemerintah Daerah Kab/Kota menetapkan Kawasan Strategis Kab/Kota
  4. RTR Kawasan Strategis Kab/Kota ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kab/Kota
  5. Rencana Detail Tata Ruang Wilayah Kab/Kota (a.l Kws. Perkotaan) ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kab/Kota.
  6. Penetapan Raperda Kab/Kota tentang RTRW Kab/Kota dan rencana rinci tata ruang terlebih dahulu harus mendapat persetujuan substansi dari Menteri setelah mendapatkan rekomendasi Gubernur.
  7. Pemda Kab/Kota harus menyebarluaskan informasi yang berkaitan dengan rencana umum dan rencana rinci tata ruang dalam rangka pelaksanaan penataan ruang wilayah kab/kota dan melaksanakan standar pelayanan minimal bidang penataan ruang.
III.2. PEMBINAAN
  1. Dalam rangka meningkatkan kinerja penataan ruang, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kab/Kota menyelenggarakan pembinaan penataan ruang menurut kewenangannya masing-masing.
2. Pembinaan Penataan Ruang dilaksanakan melalui:
·         Koordinasi penyelenggaraan penataan ruang;
·         Sosialisasi peraturan perundang-undangan dan sosialisasi pedoman bidang penataan ruang;
·         Pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi pelaksanaan penataan ruang;
·         Pendidikan dan pelatihan;
·         Penelitian dan pengembangan;
·         Pengembangan sistem informasi dan komunikasi penataan ruang;
·         Penyebarluasan informasi penataan ruang kepada masyarakat;
·         Pengembangan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat
III.3. PELAKSANAAN
III.3.a PERENCANAAN TATA RUANG
RTRW PROVINSI
1. Wewenang Pemerintah daerah Provinsi dalam pelaksanaan penataan ruang wilayah Provinsi meliputi :
·         Perencanaan Tata Ruang Wilayah Provinsi dan Kawasan Strategis Provinsi
·         Pemanfaatan Ruang Wilayah Provinsi dan Kawasan Strategis Provinsi
·         Pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Provinsi dan Kaw.Strategis Provinsi
2. RTRW Provinsi berjangka waktu perencanaan 20 tahun dengan tingkat ketelitian skala 1: 250.000
3. RTRW Provinsi harus mengacu pada:
·         Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;
·         Pedoman Bidang Penataan Ruang; dan
·         Rencana pembangunan jangka panjang daerah
4. Penyusunan RTRW Provinsi harus memperhatikan:
·         Perkembangan permasalahan nasional dan hasil pengkajian implikasi penataan ruang provinsi
·         Perkembangan permasalahan nasional dan hasil pengkajian implikasi penataan ruang provinsi
·         Upaya pemerataan pembangunan & pertumbuhan ekonomi provinsi;
·         Keselarasan aspirasi pembangunan prov & pembangunan kab/ kota;
·         Daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup;
·         Rencana pembangunan jangka panjang daerah;
·         Rencana tata ruang wilayah provinsi yang berbatasan;
·         Rencana tata ruang kawasan strategis provinsi; dan
·         Rencana tata ruang wilayah kabupaten/ kota
5. RTRW Provinsi memuat:
·         Tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang wilayah provinsi;
·         Rencana struktur ruang wilayah provinsi yang meliputi sistem perkotaan dalam wilayahnya yang berkaitan dengan kawasan perdesaan dalam wilayah pelayanannya dan sistem jaringan prasarana wilayah provinsi;
·         Rencana pola ruang wilayah provinsi yang meliputi kawasan lindung dan kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis provinsi;
·         Penetapan kawasan strategis provinsi;
·         Arahan pemanfaatan ruang wilayah provinsi yang berisi indikasi program utama jangka menengah lima tahunan; dan
·         Arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi yang berisi indikasi arahan peraturan zonasi sistem provinsi, arahan perizinan, arahan insentif dan disinsentif, serta arahan sanksi.
6. RTRW Provinsi menjadi pedoman untuk :
·         Penyusunan rencana pembangunan jangka panjang daerah;
·         Penyusunan rencana pembangunan jangka menengah daerah;
·         Pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang dalam wilayah provinsi;
·         Mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan perkembangan antar wilayah kabupaten/kota serta keserasian antarsektor;
·         Penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi;
·         Penataan ruang kawasan strategis provinsi;
·         Penataan ruang wilayah kabupaten/kota.
RTRW KABUPATEN
7. Wewenang Pemda Kabupaten dalam pelaksanaan pemanfaatan ruang meliputi:
·         Perencanaan Tata Ruang Wilayah Kabupaten, Kawasan Strategis Kabupaten, Rencana Detail Tata Ruang Wilayah Kabupaten
·         Pemanfaatan Ruang Wilayah Kabupaten dan Kawasan Strategis Kabupaten
·         Pengendalian Pemanfaatan Ruang Wilayah Kabupaten dan Kawasan Strategis Kabupaten
8. RTRW Kabupaten berjangka waktu perencanaan 20 tahun dengan tingkat ketelitian skala 1:100.000.
9. RTRW Kabupaten harus mengacu pada :
·         RTRW Nasional dan RTRW Provinsi;
·         Pedoman dan petunjuk pelaksanaan bidang penataan ruang; dan
·         Rencana pembangunan jangka panjang daerah.
10. RTRW Kabupaten harus memperhatikan :
·         Perkembangan permasalahan provinsi dan hasil pengkajian implikasi penataan ruang kabupaten;
·         Upaya pemerataan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi kabupaten;
·         Keselarasan aspirasi pembangunan kabupaten;
·         Daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup;
·         Rencana pembangunan jangka panjang daerah;
·         Rencana tata ruang wilayah kabupaten yang berbatasan;
·         Rencana tata ruang kawasan strategis kabupaten.
11. RTRW Kabupaten memuat :
·         Tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang wilayah kabupaten;
·         Rencana struktur ruang wilayah kabupaten yang meliputi sistem perkotaan di wilayahnya yang terkait dengan kawasan perdesaan dan sistem jaringan prasarana wilayah kabupaten;
·         Rencana pola ruang wilayah kabupaten yang meliputi kawasan lindung kabupaten dan kawasan budi daya kabupaten;
·         Penetapan kawasan strategis kabupaten;
·         Arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten yang berisi indikasi program utama jangka menengah lima tahunan; dan
·         Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten yang berisi ketentuan umum peraturan zonasi, ketentuan perizinan, ketentuan insentif dan disinsentif, serta arahan sanksi.
12. RTRW Kabupaten menjadi pedoman untuk:
·         Penyusunan rencana pembangunan jangka panjang daerah;
·         Penyusunan rencana pembangunan jangka menengah daerah;
·         Pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah kabupaten;
·         Mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan keseimbangan antarsektor;
·         Penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi;
·         Penataan ruang kawasan strategis kabupaten.
13. RTRW Kabupaten menjadi dasar untuk penerbitan perizinan lokasi pembangunan dan administrasi pertanahan
RTRW KOTA
14. RTRW Kota berjangka waktu perencanaan 20 tahun dengan tingkat ketelitian skala 1 : 50.000
15. Ketentuan perencanaan tata ruang wilayah kabupaten berlaku mutatis mutandis untuk perencanaan tata ruang wilayah kota, dengan ketentuan tambahan:
·         Rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau dengan proporsi 30% dari wilayah kota
·         Rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka nonhijau; dan
·         Rencana penyediaan dan pemanfaatan prasarana dan sarana jaringan pejalan kaki, angkutan umum, kegiatan sektor informal, dan ruang evakuasi bencana, yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi wilayah kota sebagai pusat pelayanan sosial ekonomi dan pusat pertumbuhan wilayah
RENCANA TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN
  • Kawasan Perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi(Pasal 1 ayat 25).
  • Penataan Ruang Kawasan Perkotaan diselenggarakan pada (pasal 41 ayat 1) :
a. Kawasan Perkotaan yang menjadi bagian wilayah kabupaten
b. Kawasan yang secara fungsional berciri perkotaan yang mencakup 2 (dua) atau lebih wilayah kabupaten/kota pada satu/lebih wilayah Provinsi
  • Rencana tata ruang kawasan perkotaan yang merupakan bagian wilayah kabupaten adalah rencana rinci tata ruang wilayah kabupaten (Pasal 42 ayat1)
RENCANA TATA RUANG KAWASAN METROPOLITAN
  • Kawasan Metropolitan adalah kawasan perkotaan yang terdiri atas sebuah kawasan perkotaan yang berdiri sendiri atau kawasan perkotaan inti dengan kawasan perkotaan di sekitarnya yang saling memiliki keterkaitan fungsional yang dihubungkan dengan sistem jaringan prasarana wilayah yang terintegrasi dengan jumlah penduduk secara keseluruhan sekurang-kurangnya 1.000.000 (satu juta) jiwa (Pasal 1 ayat 26).
  • Rencana Tata Ruang Kawasan Metropolitan merupakan alat koordinasi pelaksanaan pembangunan lintas wilayah (Pasal 44 ayat 1 )
III.3.b PEMANFAATAN RUANG
1.      Dilaksanakan melalui pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya dengan memperhatikan SPM dalam penyediaan sarana dan prasarana
2.      Dilaksanakan baik pemanfaatan ruang secara vertikal maupun pemanfaatan ruang di dalam bumi
3.      Program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya, termasuk jabaran dari indikasi program utama yang termuat di dalam RTRW
4.      Diselenggarakan secara bertahap sesuai dengan jangka waktu indikasi program utama pemanfaatan ruang yang ditetapkan dalam RTR
5.      Pelaksanaan pemanfaatan ruang di wilayah di sinkronisasikan dengan pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah administratif sekitarnya
III.3.c PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG
  • Pemerintah daerah Provinsi/Kab/Kota harus melakukan pengendalian pemanfaatan ruang di daerahnya, melalui penetapan peraturan zonasi, perizinan, pemberian insentif dan disinsentif, serta pengenaan sanksi
  • Peraturan Zonasi disusun berdasarkan rencana rinci tata ruang untuk setiap zona pemanfaatan ruang dan digunakan sebagai pedoman pengendalian pemanfaatan ruang
  • Arahan Peraturan Zonasi Sistem Provinsi ditetapkan dengan Perda Provinsi
  • Peraturan Zonasi Kab/Kota ditetapkan dengan Perda Kab/Kota
  • Pemda dapat mengatur ketentuan perizinan menurut kewenangannnya masing-masing sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
  • Pemda Provinsi/Kab/Kota dapat saling memberikan insentif dan disinsentif dalam rangka agar pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang wilayah
  • Pemda dapat mengenakan sanksi (sanksi administrasi, pidana dan perdata) sebagai tindakan penertiban yang dilakukan terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang dan peraturan zonasi.
KETENTUAN PIDANA

III.3.d. PENGAWASAN
  • Pengawasan merupakan upaya agar penyelenggaraan penataan ruang dapat diwujudkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
  • Pengawasan penataan ruang terdiri atas tindakan pemantauan, evaluasi dan pelaporan.
  • Pemerintah daerah harus melaksanakan pengawasan terhadap kinerja pengaturan, pembinaan, dan pelaksanaan penataan ruang untuk menjamin tercapainya tujuan penyelenggaraan penataan ruang.
  • Dalam melaksanakan pengawasan penataan ruang, pemda harus melibatkan masyarakat.
  • Pemerintah daerah harus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap penyelenggaraan penataan ruang di daerah, yang dilakukan dengan mengamati dan memeriksa kesesuaian antara penyelenggaraan penataan ruang dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
  • Pemerintah daerah melakukan pengawasan penataan ruang pada setiap tingkat wilayah dilakukan dengan menggunakan pedoman bidang penataan ruang.
  • Penyelenggaraan penataan ruang dilakukan oleh Pemerintah dengan melibatkan peran masyarakat
  • Peran masyarakat dilakukan melalui :
      a. Partisipasi dalam penyusunan rencana tata ruang;
b. Partisipasi dalam pemanfaatan ruang; dan
c. Partisipasi dalam pengendalian pemanfaatan ruang
  • Pemda harus menginformasikan secara luas kepada masyarakat mengenai rencana tata ruang wilayah nya (Prov/Kab/Kota).
  • Pemda siap untuk menghadapi gugatan masyarat terkait dengan penyelenggaraan penataan ruang yang tidak sesuai dengan rencana penataan ruang
  • Pemda siap untuk menghadapi pengajuan keberatan masyarakat terhadap pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang
  • Pemda siap menghadapi tuntutan pembatalan izin dan penghentian pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang

KETENTUAN PERALIHAN
  1. Pada saat UU ini mulai berlaku, semua peraturan pelaksanaan yang berkaitan dengan penataan ruang yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan UU ini.
  2. Pada saat rencana tata ruang ditetapkan, semua pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang harus disesuaikan dengan rencana tata ruang melalui kegiatan penyesuaian pemanfaatan ruang.
  3. Pemanfaatan ruang yang sah menurut rencana tata ruang sebelumnya diberi masa transisi selama 3 (tiga) tahun untuk penyesuaian
  4. Untuk pemanfaatan ruang yang izinnya diterbitkan sebelum penetapan rencana tata ruang dan dapat dibuktikan bahwa izin tersebut diperoleh dengan prosedur yang benar, kepada pemegang izin diberi penggantian yang layak.

 Sumber:

Kamis, 28 Oktober 2010

Arsitektur dan Lingkungan

PENGARUH SUATU BANGUNAN TERHADAP LINGKUNGAN

Dampak Pembangunan Sektor Industri Terhadap Kelestarian Lingkungan


 PABRIK

Pada umumnya di Indonesia untuk sebuah bangunan pabrik ”sering kali tidak menggunakan arsitek” untuk membangunnya.Oleh karena itu bangunannya pun hanya begitu begitu saja ‘seperti gudang dengan konstruksi baja’ bila dilihat dari luar. Dan bila kita masuk ke dalam ruangnya pun hanya sekedar ada proses produksi, dan kelihatan amburadul. Tanpa adanya tatanan yang layak untuk proses berproduksi.
  • Pengertian
       Pengertian pabrik itu sendiri adalah suatu bangunan industri besar di mana para pekerja mengolah benda atau mengawasi pemrosesan mesin dari satu produk menjadi produk lain, sehingga mendapatkan nilai tambah. Kebanyakan pabrik modern memiliki gudang atau fasilitas serupa yang besar yang berisi peralatan berat yang digunakan untuk lini perakitan. Pabrik mengumpulkan dan mengkonsentrasikan sumber daya: pekerja, modal, dan mesin industri.
Situasi pekerja
       Pabrik juga sangat berperan besar dalam kegiatan perindustrian di setiap Negara, begitupun di Negara kita. Banyak jenis pabrik yang terdapat di negara kita. Dari mulai pabrik kebutuhan rumah tangga sampai pabrik kimia. Seperti pabrik tepung dan sebagainya.
Dalam setiap kegiatan industri pasti membutuhkan pabrik dalam penyelenggaraan produksi. Tapi akhir akhir ini, banyak juga pabrik yang sudah mulai tidak beroperasi, karena keadaan perekonomian Negara yang bersangkutan. Seperti di Negara kita, banyak pengusaha pengusaha ynag mulai gulung tikar dan mulai jual pabrik miliknya.
Pabrik sendiri itu sangat berperan penting dalam rangka produksi dan pajak bagi Negara. Di Negara kita pabrik yang banyak mempengaruhi pajak itu pabrik rokok. Karena di Negara kita itu sangat besar jumlah orang orang yang merokok. Makanya jarang kita dengar bahwa ada yang jual pabrik rokok, karena pasti apabila ada yang jual pabrik rokok itu banyak peminatnya dari pengusaha. Karena pabrik tersebut sangat menguntungkan. Tapi terkadang tidak semua jual pabrik itu dengan fasilitas ynag terdapat didalamnya, walaupun banyak juga yang jual pabrik itu termasuk fasilitas didalamnya.
  •  Dampak positif 
  • Dampak positif dari pembangunan sektor industri sudah banyak kita rasakan, mulai dari :
    -meningkatnya kemakmuran rakyat, 
    -meningkatnya pendapatan perkapita, 
    -meningkatnya mutu pendidikan masyarakat, 
    -meningkatnya kesadaran akan kesehatan dan masih banyak lagi sisi positif dari pembangunan. 
    Namun demikian semua jenis usaha memiliki dampak atau sisi negatif selanjutnya pemerintah kurang memperhatikan kebijaksanaan yang mengatur tentang dampak atau sisi negatif dari pembangunan yang ternyata sangat banyak, mulai dari kerusakan hutan, penurunan mutu air minum, banjir dan tanah longsor, pengikisan tanah pinggiran pantai dan masih banyak lagi dampak negatif dari pembangunan. 
  • Dampak Negatif 
  • Asap pabrik
    Salah satu dampak negatif pembangunan yang menonjol adalah timbulnya berbagai macam pencemaran, akibat penggunaan mesin-mesin dalam industri maupun mesin-mesin sebagai hasil produksi dari industri tersebut. Ada berbagai bentuk pencemaran, antara lain pencemaran udara yang diakibatkan oleh asap yang dihasilkan sisa pembakaran dari mesin, pencemaran air yang diakibatkan pembuangan sisa industri yang bersifat cair secara langsung tanpa melalui proses daur ulang, pencemaran tanah akibat sampah plastik yang tidak dapat diuraikan oleh tanah dan pencemaran suara dari suara mesin-mesin. Akibat semakin gencarnya para pengusaha berproduksi untuk memproduksi barang dalam jumlah yang sangat besar, maka semakin meningkat sisa pembakaran berupa gas CO, yang berbahaya bagi manusia juga bertambah jumlah, sisa produksi berupa bahan kimia yang berbahaya juga bertambah jumlahnya. Selain itu masyarakat yang mengkonsumsi produk tersebut akan membuang kemasannya dalam jumlah besar maka terjadilah pencemaran akumulasi dari berbagai bentuk pencemaran dalam suatu daerah.  LIMBAH
    Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Dimana masyarakat bermukim, disanalah berbagai jenis limbah akan dihasilkan. Ada sampah, ada air kakus (black water), dan ada air buangan dari berbagai aktivitas domestik lainnya (grey water).
    Limbah padat lebih dikenal sebagai sampah, yang seringkali tidak dikehendaki kehadirannya karena tidak memiliki nilai ekonomis. Bila ditinjau secara kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia Senyawa organik dan Senyawa anorganik. Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh limbah tergantung pada jenis dan karakteristik limbah.
    Limbah Sungai

    Pengolahan limbah

    Beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas limbah adalah volume limbah, kandungan bahan pencemar, dan frekuensi pembuangan limbah. Untuk mengatasi limbah ini diperlukan pengolahan dan penanganan limbah. Pada dasarnya pengolahan limbah ini dapat dibedakan menjadi:
    1. pengolahan menurut tingkatan perlakuan
    2. pengolahan menurut karakteristik limbah
    Untuk mengatasi berbagai limbah dan air limpasan (hujan), maka suatu kawasan permukiman membutuhkan berbagai jenis layanan sanitasi. Layanan sanitasi ini tidak dapat selalu diartikan sebagai bentuk jasa layanan yang disediakan pihak lain. Ada juga layanan sanitasi yang harus disediakan sendiri oleh masyarakat, khususnya pemilik atau penghuni rumah, seperti jamban misalnya.
    1. Layanan air limbah domestik: pelayanan sanitasi untuk menangani limbah air kakus yang layak harus memiliki akses air besrsih yang cukup dan tersambung ke unit penanganan air kakus yang benar. Apabila jamban pribadi tidak ada, maka masyarakat perlu memiliki akses ke jamban bersama atau MCK.
    2. Layanan persampahan. Layanan ini diawali dengan pewadahan sampah dan pengumpulan sampah. Pengumpulan dilakukan dengan menggunakan gerobak atau truk sampah. Layanan sampah juga harus dilengkapi dengan tempat pembuangan sementara (TPS), tempat pembuangan akhir (TPA), atau fasilitas pengolahan sampah lainnya. Dibeberapa wilayah pemukiman, layanan untuk mengatasi sampah dikembangkan secara kolektif oleh masyarakat. Beberapa ada yang melakukan upaya kolektif lebih lanjut dengan memasukkan upaya pengkomposan dan pengumpulan bahan layak daur-ulang
    3. Layanan drainase lingkungan adalah penanganan limpasan air hujan menggunakan saluran drainase (selokan) yang akan menampung limpasan air tersebut dan mengalirkannya ke badan air penerima. Dimensi saluran drainase harus cukup besar agar dapat menampung limpasan air hujan dari wilayah yang dilayaninya. Saluran drainase harus memiliki kemiringan yang cukup dan terbebas dari sampah.
    4. Penyediaan air bersih dalam sebuah pemukiman perlu tersedia secara berkelanjutan dalam jumlah yang cukup. Air bersih ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan makan, minum, mandi, dan kakus saja, melainkan juga untuk kebutuhan cuci dan pembersihan lingkungan.

    Karakteristik Limbah

    1. Berukuran mikro
    2. Dinamis
    3. Berdampak luas (penyebarannya)
    4. Berdampak jangka panjang (antar generasi)

    Limbah Industri

    Berdasarkan karakteristiknya limbah industri dapat dibagi menjadi empat bagian
    1. Limbah cair biasanya dikenal sebagai entitas pencemar air. Komponen pencemaran air pada umumnya terdiri dari bahan buangan padat, bahan buangan organik, dan bahan buangan anorganik.
    2. Limbah padat
    3. Limbah gas dan partikel
    4. Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Merupakan sisa suatu usaha atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat, konsentrasinya, dan jumlahnya secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan, merusak, dan dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lainnya. Pengelolaan Limbah B3 adalah rangkaian kegiatan yang mencakup reduksi, penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan, dan penimbunan limbah B3. Pengelolaan Limbah B3 ini bertujuan untuk mencegah, menanggulangi pencemaran dan kerusakan lingkungan, memulihkan kualitas lingkungan tercemar, dan meningkatan kemampuan dan fungsi kualitas lingkungan